Tony Stark mempunyai nama lengkap Anthony Edward Stark. Dia lahir di Long Island, New York. Orang tua Tony Stark
adalah Howard Anthony Stark (Ayah) dan Maria Stark (Ibu). Ayahnya
adalah seorang pengusaha kaya raya terkemuka, pemilik perusahaan Stark
Industries (Stark Enterprises). Tony Stark kecil adalah seorang genius prodigy, anak yang mempunyai kecerdasan luar biasa terutama di bidang sains khususnya permesinan.
Ketertarikannya pada mesin dilanjutkan dengan menempuh pendidikan sarjana Teknik Mesin
dan Kelistrikan (Electrical and Mechanical Engineering) di
Massachusetts Institute of Technology (MIT) pada usia 15 tahun. Di MIT
juga, Tony Stark mendapatkan dua gelar Master bidang Fisika dan Electrical and Mechanical Engineering pada usia 19 tahun. Selepas kuliah, atas permintaan ayahnya, Tony
bekerja di Stark Enterprises pada divisi inovasi dan pengembangan
teknologi. Tetapi, bukannya menggunakan kemampuannya sebagai insinyur
mesin, Tony muda malah terjerumus ke dunia hura-hura khas anak
muda. Dia mulai terbiasa dengan kehidupan yang jauh dari hal-hal
positif, seperti menjadi seorang playboy dan pecandu alkohol. Dia menjadi seorang alkoholik yang gemar berpesta malam sembari sibuk mengencani gadis-gadis.
Pada usia 21 tahun, kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan
mobil. Kecelakaan tersebut terjadi karena malfungsi rem yang disabotase
oleh perusahaan saingan bisnis Ayahnya, Republic Oil yang kemudiaan
dikenal dengan nama perusahaan ROXXON. Tony muda mewarisi seluruh
kekayaan dan perusahaan Ayahnya, Stark Enterprises, dan seketika itu
langsung menjadi orang kaya baru karena warisan yang didapatnya. Akan
tetapi, Tony mengalami saat-saat yang paling berduka dalam
hidupnya. Akibat kejadian tersebut, dia semakin terjerumus ke dalam
penggunaan alkohol. Karena masih kurang pengalaman dalam bisnis, dia
menunjuk sekretaris pribadinya yang sangat dipercaya, Virginia Potts atau yang lebih dikenal dengan nama Pepper Potts,
untuk menjadi Asisten Eksekutif yang bertugas untuk menggantikannya
menangani seluruh bisnis warisan dari Ayahnya. Walaupun keputusan
tersebut sempat ditentang oleh para Dewan Direksi dan para pemegang saham,
Tony tetap bersikeras dengan keputusannya. Tony yang sangat berduka dan
rapuh menganggap pekerjaan yang diwarisinya sebagai sebuah beban dan
dia menunjukkan keengganan yang sangat besar untuk menangani pekerjaan
tersebut.
Tony Stark terus melanjutkan hidupnya yang penuh hura-hura
sama seperti saat-saat sebelum orang tuanya meninggal, bahkan menjadi
lebih buruk. Dia menjadi seorang pribadi yang egois dan tidak serius.
Selain menjadi seorang penggemar pesta-pesta malam, dia juga menjadi
seorang petualang dalam arti yang sebenarnya. Dia berkeliling dunia
menggunakan kekayaannya dengan diselingi bekerja sebagai direktur Stark
Enterprises walaupun dilakukan dengan setengah hati. Bisnis utama Stark
Enterprises sendiri adalah di bidang pertahanan dan militer. Perusahaan
tersebut menjadi pemasok senjata terbesar di dunia. Bahkan media massa
dengan penuh sindiran menyebutkan, “Tidak ada perang di masa modern yang tidak menggunakan senjata buatan Stark Enterprises“.
Pernah dalam suatu petualangan sekaligus pekerjaannya, karena
kecerobohannya melakukan aktivitas tanpa pengawalan yang memadai seperti
layaknya kaum milyuner, dia hampir menemui ajal di kancah perang Vietnam yang sedang berkecamuk (Berbeda dengan versi masa kini yang menyebutkan kejadian tersebut terjadi pada masa Perang Teluk di Irak).
Dengan menderita luka yang parah, dia berhasil lolos dari maut tapi
membuatnya ditawan pihak musuh (kaum komunis). Seperti yang telah kita
ketahui bersama, kejadian tersebut menjadi titik balik yang penting
dalam kehidupannya. Dia bertransformasi dari seorang manusia biasa
menjadi superhero luar biasa (Iron Man).
Dan yang lebih penting, kejadian tersebut menjadi semacam pencerahan
baginya karena telah berhasil mengubah dirinya dari manusia egois
menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Harus diakui, kejadian tersebut
tidak serta-merta mengubahnya secara drastis. Seorang Pepper Potts-lah yang perlahan tapi pasti berhasil mengubahnya. Pepper Potts
menjadi wanita yang sangat penting setelah sosok Ibunya, Maria Stark,
dalam kehidupan Tony. Dialah yang menjadi wanita terakhir dalam
perjalanan cinta seorang Tony Stark.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar